Beri Aku Jalan
Selalu mengesankan. Semua tulisan yang kuanggap memang lahir dari hati dan dituangkan dengan imajinasi. Aku merasa ingin berguru padanya, lewat sajaknya, kisahnya, dan kehidupan yang serba berkecukupan air mata. Barangkali mereka dilahirkan dari air mata bening, nyatanya itu bukan kesedihan untuk mereka, tapi kesedihan adalah jalan yang memang dipilih untuk mengerti bahagia yang akan dielu-elukan akhhirnya. "Bagaimana mereka menangis lewat sajak?." Sungguh aku ingin menanyakannnya. Seharusnya ujung huruf dari sajak yang ditulis atau bahkan lembaran yang disengaja menanggung sajak itu dipenuhi genangan. Basah dan membuat lembaran itu hancur. Ah, itu imaji berlebihan. "Berapa banyak buku yang mereka baca?". Ah, selalu saja aku kalau kalau ditanya berapa banyak buku yang kubaca, karena jawabannya sudah jelas, tidak banyak. Sedangkan jawaban yang akan mereka berikan untuk pertanyaan itu, "sebanyak lembaran buku yang kau baca." Wah, tentu itu sulit ucapkan d...